image1 image2 image3

HELLO I'M RARAA|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|LET THE WORDS BRING YOUR MEMORIES|'KEEP READING!

Kata-kata di dalam Kepala Arul




Sejak semalam hujan tanpa ampun mengguyur seluruh perkampungan. Pagi ini, hujan bersanding dengan matahari yang naik sepenggalah. Langit abu-abu muram serupa dinding tembok rumah bersemen yang tak kunjung dilapisi plamur dan cat warna. Di tanjung, tepi bukit yang menjorok ke luar, kabut memayungi aliran sungai dan pegunungan di sekitarnya. Disini, kabut selalu hadir nyaris bersamaan dengan datangnya hujan.

Sementara alam asyik-masyuk bermain dengan hujan dan kabut, keriuhan sekelompok anak kecil terdengar samar-samar. Suara bisik kecil, teriakan lantang, juga nyanyian sumbang merayap di balik dinding bambu. Tampak dari depan rumah bambu itu terpampang tulisan "Taman Baca", berdampingan dengan gerombolan pohon pendek berbunga warna merah dan kuning.

Di bagian dalam rumah bambu yang terasa lebih hangat, dua tiga bocah laki-laki dan perempuan duduk bersila membentuk lingkaran. Centrum lingkaran adalah seorang perempuan remaja yang bertepuk tangan dengan pola-pola tertentu sambil menyanyikan lagu ceria. Bocah-bocah tadi takjub dan tanpa sadar mengimitasi gerakan perempuan itu. Semuanya tertawa-tawa. Satu sudut lain menampilkan anak sepantaran lima tahun memanjat dinding rumah demi menemukan buku di atas rak kayu. Sebagian lain menerawang dunia luar lewat celah-celah dinding. Hari menyepi.

Di antara hiruk pikuk, tampak satu laki-laki duduk tenang menunduk. Seolah suara-suara berada jauh dari dirinya. Dia mengunci diri bersama buku bersampul merah yang diletakkan di pangkuannya. Mulutnya komat-kamit menggumamkan kata serupa mantra. Wajahnya mengerut, sesekali alis tebalnya mengerinyit. Halaman yang sedang dia cermati dipenuhi kalimat-kalimat panjang dengan huruf latin hitam.

Laki-laki itu bernama Arul. Setiap pagi tubuh mungilnya duduk di salah satu deretan bangku kelas 1 SD bersama puluhan lain anak-anak warga desa Kahayya. Jarak yang mesti ditapakinya dari rumah menuju sekolah berbilang kilometer, Belum menghitung tanah berlumpur dan kabut selepas hujan seperti sekarang ini. Taman baca dan rumahnya dibatasi sekitar lima petak rumah penduduk lokal, memungkinkan dia berkunjung lebih sering. Selepas siang, dia berjalan lebih jauh ke arah tanjung dan menghabiskan sore bersama kawan-kawannya hingga adzan maghrib memanggilnya pulang.

Arul, tipikal anak kecil yang lahir dan dibesarkan di dusun, nun jauh dari geliat hegemoni perkotaan. Hari-hari pertama mengarungi bumi, enam tahun lalu, dia disapih di satu rumah panggung berkayu dekat tepian tanjung. Belum ada taman baca kala itu. Hanya ada perbukitan Kahayya, pemukiman warga Sinjai Borong, dan sungai deras yang membatasi keduanya.

Menatap Arul kali awal di taman baca seperti menemukan Lintang di ruang kelasnya di Belitong. Matanya menyorotkan pertanyaan-pertanyaan tentang hidup, yang belum mampu dia tuturkan dalam frasa. Dia lampiaskan kegamangannya dengan melahap buku-buku di taman baca. Hampir semua rekan sebayanya cukup bahagia dengan buku-buku bergambar atau bahan bacaan ringan. Namun Arul lebih memilih genre yang lebih serius. Pagi ini dia membaca Sejarah Kerajaan Bone, satu dari tumpukan buku baru yang memenuhi rak.

Kendati pikirannya melaju kencang seiring kebingungan yang begitu ingin dia pecahkan, Arul masih belum sepenuhnya memahami kata. Secara harfiah, maupun terminologis. Kadang-kadang dia berhenti di tengah-tengah bacaan, mencoba mengingat bagaimana pelafalan ‘ny’ atau ‘ng’. Di momen semacam ini, jarinya berhenti tepat di jejeran gabungan kata yang tak mampu dia baca. Setelah berhasil memecahkan misteri kalimat, barulah dia meneruskan bacaannya.

Arul tidak pernah menganggap dirinya terlalu muda untuk bersanding dengan buku-buku tua. Malahan, saban membuka buku baru, dia menyempatkan diri membaca halaman pertama; kata pengantar. Tapi kalau sisi kanak-kanaknya datang, dia bisa melewati satu dua lembaran buku tanpa menyelesaikan seluruh baris.  Meski sesekali menampakkan wajah malas, di depan buku dia selalu nampak cerah. Seperti bertemu dengan kawan karib yang menemaninya bercakap lewat tulisan.

Hujan perlahan minggat dari kampung, menguarkan udara dingin yang masuk lewat celah dinding rumah. Perempuan yang tadi menjadi pusat anak-anak bermain, kini berdiri dan beranjak keluar. Bocah-bocah kecil mengekor. Arul terhentak, dilipatnya buku di pangkuan lalu menaruhnya di antara tumpukan buku lain. Dengan langkah-langkah kecil, dia menyelusup di antara kerumunan, menyusul. Matanya menyorotkan pertanyaan-pertanyaan baru tentang cerita yang barusan dia baca.

Share this:

CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment